Sifat orang dilihat dari rokok








Dji Sam Soe Kretek 
Kecenderungan pria yang merokok Dji Sam Soe Kretek memiliki kepribadian yang kuat, suka tantangan dan memiliki mental leadership & enterpreneurship yang kuat, tetapi cenderung egois. 
Gudang Garam Filter International 
Kecenderungan pria yang merokok Gudang Garam Filter International memiliki idealisme sendiri, cuek, apa adanya, santai dan tidak menyukai keributan (peaceful guy)
Djarum Super
Kecenderungan pria yang merokok Djarum Super memiliki idealisme sendiri, cuek, ingin selalu menonjolkan diri dan cenderung menyukai keributan, tetapi akan sangat baik terhadap sahabatnya. 
 Sampoerna A Mild 

Kecenderungan pria yang merokok Sampoerna A Mild selalu stylist, cenderung supel sehingga terkadang keputusan yang dibuat dipengaruhi orang sekitarnya, dan tidak menyukai sesuatu yang complicated sehingga lebih suka mencari jalan amannya saja. Marlboro 
Kecenderungan pria yang merokok Marlboro memiliki kepribadian yang kuat, stylist, cuek, ingin selalu menonjolkan diri, dan memiliki mental enterpreneurship yang kuat.
 Marlboro Menthol 
Kecenderungan pria yang merokok Marlboro Menthol memiliki kepribadian yang kuat, ingin selalu menonjolkan diri, tidak mau kalah sehingga terkadang menggunakan segala kekuatan yang dimiliki untuk menang dan selalu membuat kesan pertama itu menggoda.
 Rokok Mild Menthol 
Kecenderungan pria yang merokok Mild Menthol merek apapun, memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain, tidak mau kalah dan memiliki mental leadership yang kuat. 

Rokok Mild Yang Lain 
Kecenderungan pria yang merokok Mild merek yang lain, selalu stylist, cenderung supel, kuat terhadap pendirian sendiri tetapi tetap toleran terhadap sekitarnya. 
 Rokok Kretek Yang Lain
Kecenderungan pria yang merokok kretek merek yang lain selalu kuat terhadap pendiriannya sendiri, cenderung supel, menyukai tantangan dan memiliki mental enterpreneurship yang cukup kuat.
 Rokok Apapun 
Kecenderungan pria yang merokok merek apapun, cenderung supel tetapi labil, mudah terpengaruh sekitarnya, menyukai hal-hal yang baru dan selalu mengalami kesulitan setiap akan mengambil keputusan.

 

Kriminalisasi Konsumen Tembakau (Bagian 1)


Di penghujung tahun 2012, Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 109/2012 tentang “Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan” (yang kemudian disebut PP Tembakau). Penulis akan membagi tulisan ini dalam tiga bagian. Bagian pertama akan mengulas dasar hukum PP Tembakau perspektif konsumen tembakau. Bagian kedua akan mengulas PP Tembakau dengan perspektif konsumen rokok. Sedangkan bagian ketiga adalah implikasi PP Tembakau terhadap konsumen rokok.
PP Tembakau adalah produk hukum yang sangat berakibat langsung kepada konsumen tembakau di Indonesia. Di hadapan PP Tembakau, posisi konsumen rokok tidak bisa dikebiri begitu saja. Selain petani tembakau, industri rokok, pengasong rokok, dan buruh industri rokok, konsumen rokok adalah elemen dengan jumlah terbesar yang berhubungan langsung terhadap PP Tembakau. Dengan demikian, mengkaji PP Tembakau dengan perspektif konsumen adalah keniscayaan.
Sebelum membahas PP Tembakau, kita perlu membahas dasar hukum terbentuknya PP Tembakau. Peraturan Pemerintah tentang Tembakau ini merupakan turunan dari Undang Undang Nomor 36 tahun 2009 pasal 116 tentang Kesehatan yang berbunyi “Ketentuan lebih lanjut mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.” Pasal 116 tersebut tidak berdiri sendiri, pasal ini disokong oleh pasal 113 tentang “Pengamanan Zat Adiktif”. Secara sederhana bisa dikatakan, pasal 113 adalah alasan mengapa PP Tembakau perlu dibentuk, sedangkan Pasal 116 adalah pasal yang mengamanatkan pembentukan PP Tembakau.
Pasal 113 UU 36/2009 berjudul “Pengamanan Zat Adiktif” berbunyi, Ayat 1: ”Pengamanan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.” Dengan isi pasal demikian, artinya, pasal itu akan mengatur semua produk yang mengatur zat adiktif, tanpa terkecuali, agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perseorangan konsumen, baik dilevel keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
Di Indonesia banyak sekali produk yang dikonsumsi oleh masyarakat, yang dalam terminologi kesehatan dianggap mengandung zat adiktif. Ada yang secara hukum legal, ada pula yang illegal. Hubungannya dengan Pasal 113 UU 36/2009, ayat 1 dari pasal tersebut mengamanatkan pemerintah untuk mengatur semua produk yang dalam dunia kesehatan dianggap mengandung zat adiktif, baik legal maupun yang illegal, yang dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Dalam terminology kesehatan, beberapa zat adiktif yang secara hukum legal dikonsumsi oleh masyarakat diantaranya[1]: (a) Caffeine (kafein), contohnya : kopi, teh, soda, dan minuman suplemen; (b) Nikotin, contohnya : rokok, cerutu, potongan nikotin , kopi dan produk stimulant untuk meningkatkan dopamine dan adrenaline; (c) Alkohol, contohnya : Wine (anggur), bir, (beer),Liquor, dan lain sebagainya; (d) Inhalants, contohnya : erosolsolvents (bahan untuk pembersih) dan gas nitrat, yang biasa dipakai untuk produk cat thinnerhair spray, dan lain sebagainya; (e)Amphetamine, contohnya speedcrystal meth, dan produk lain yang dipakai untuk meningkatkan konsentrasi; (f) Sedative-hypnotic, atau obat-obat hipotik, contohnya Benzodiazepines XanaxValium,barbituratesSeconolphenobarbital; (g) Opioids, contohnya: Heroin, morfin, oxycodone, kodein dan obat bius lainnya.
Dengan demikian, sesuai dengan amanat pasal 113 ayat (1), pengamanan zat-zat adiktif setidaknya melingkupi semua produk yang mengandung zat adiktif di atas. Belum lagi zat adiktif yang illegal, yang tidak disebutkan dalam daftar di atas. Namun, penjelasan mengenai ayat (1) yang tertuang pada ayat (2) pasal 113 UU 36/2009, malah secara jelas hanya menyebut tembakau: “ Zat adiktif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau, padat, cairan, dan gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya dan/atau masyarakat sekelilingnya”.
Dari tujuh zat adiktif versi dunia kesehatan, yang secara legal dapat dipasarkan di Indonesia, ayat (2) secara tendensius hanya menyebut tembakau. Ayat ini sangat lemah, karena tidak dijelaskan, mengapa hanya tembakau yang diatur. Dan kenapa pula tembakau dianggap sebagai zat adiktif. Pada pasal 113, dan pasal lain dalam UU 36/2009, juga tidak disebutkan, mengapa hanya tembakau yang diatur, sedangkan enam zat adiktif lain sama sekali tidak disebut dalam pasal yang berjudul “Pengamanan Zat Adiktif” ini. Juga tidak disebutkan, mengapa tembakau dianggap sebagai zat adiktif.
Padahal, posisi tembakau sebagai zat adiktif, menurut hemat saya masih perlu dipertanyakan. Benarkah tembakau termasuk adalah zat adiktif (addictive substances)? Ataukah merupakan perilaku adiktif (addictive behaviors)? Ataukah mengkonsumsi tembakau itu sekadar kebiasaan (habit), sebagaimana ketika kita mengkonsumsi produk-produk lain?
Dalam terminologi kesehatan telah banyak dijelaskan, ada banyak akibat yang bisa timbul sebagai akibat dari mengkonsumsi zat adiktif. Profesor emeritus di bidang Applied Health Science asal Indiana University, Ruth Clifford Engs, menyebutkan, ada 10 akibat yang ditimbulkan dari zat adiktif, yakni[2]:
(1) Orang menjadi terus-menerus terobsesi atas barang tersebut; (2) Mereka akan tergantung, meskipun hal itu berakibat buruk (baik masalah pekerjaan, fisik, kinerja, studi, dan relasi dengan teman-teman, keluarga, rekan sekerja); (3) Mengalami gangguan obsesif kompulsif (OCD), bergantung dan sulit untuk berhenti. (4) Setelah penghentian konsumsi, ia akan mengalami gejala sakau atau depresi; (5) Orang akan mengalami kehilangan kontrol atas dirinya; (6) Dia sering menyangkal adanya akibat negatif dalam dirinya, meskipun orang lain dapat melihat efek negative yang timbul; (7) Orang tersebut akan bertingkah aneh dan menyembunyikan perilaku buruk setelah keluarga atau teman dekat telah mengingatkan; (8) Banyak orang dengan perilaku adiktif akan kehilangan kesadaran dalam perilakunya, termasuk tidak ingat apa yang ia lakukan, berapa lama ia duduk, berapa banyak mengkonsumsi dan sebagainya; (9) Mengalami depresi; (10) Memiliki kepercayaan diri yang rendah dan merasa cemas.
Dengan deskripsi mengenai akibat yang timbul dari zat adiktif di atas, apakah tembakau bisa digolongkan dalam zat adiktif? Apakah dengan mengkonsumsi tembakau, orang akan mengalami kehilangan kendali atas apa yang mereka lakukan? Dan kalau orang berhenti merokok, apakah ia akan mengalami sakau? Karena kanyataannya, orang yang mengkonsumsi tembakau tidak lantas kehilangan kesadarannya, juga tidak lantas kehilangan kendali atas perilakunya. Dan kalau berhenti mengkonsumsi tembakau, baik untuk sementara atau seterusnya, dia tidak mengalami gejala sakau. Orang tidak harus diterapi untuk berhenti merokok. Karena secara sadar ia bisa melakukannya sendiri, mengambil keputusan itu sendiri, dengan tanpa diterapi. Contoh lain misalnya, ketika puasa, seorang perokok yang tiap harinya biasa merokok, juga tidak mengalami sakau meskipun seharian tidak merokok.
Saya tidak perlu menyangkal apakah tembakau adalah zat adiktif atau bukan, tetapi kita bisa menilai sendiri. Informasi mengenai ciri-ciri gangguan zat adiktif diproduksi oleh ilmu kesehatan. Penggolongan tembakau sebagai zat adiktif, juga dikeluarkan oleh ilmu kesehatan. Namun pada kenyataannya, keduanya mendapati fakta lapangan yang tidak sejalan. Penggolongan rokok sebagai zat adiktif, secara bertolak belakang bertentangan dengan deskripsi pengkonsumsi zat adiktif yang dikeluarkan oleh ilmu kesehatan. Keduanya kontradiktif.
Dan kalaupun benar bahwa tembakau termasuk zat adiktif, pasal 113 UU 36/2009 di atas secara tegas tampak menghakimi pengguna dan konsumen tembakau di Indonesia. Para konsumen kafein,alcoholinhalantsamphetaminesecative-hypnotic, dan opioids yang juga dianggap mengandung zat adiktif dalam dunia kesehatan, ternyata tidak diatur. Sedangkan konsumen tembakau—dengan zat adiktif bernama Nikotin—dianggap berbahaya dan harus diatur. Pengaruh UU ini terhadap konsumen rokok di Indonesia sangat besar. Konsumen rokok dikebiri dikriminalisasi. Kalaupun benar bahwa tembakau adalah zat adiktif, konsumen tembakau tidak diperlakukan sama dengan konsumen produk lain yang juga dianggap mengandung zat adiktif. Artinya, bunyi ayat (2) pada pasal 113 tersebut sudah tidak adil dan tendensius sejak dalam pembentukan dasar hukumnya.
Padahal mestinya,  kalau mau konsisten, sesui dengan judul pasal 113, yakni “Pengamanan Zat Adiktif”, ayat (2) harusnya menjelaskan semua zat adiktif, tanpa terkecuali. Hal ini dipertegas pada ayat (3), dengan bunyi pasal: “Produksi, peredaran, dan penggunaan bahan yang mengandung zat adiktif harus memenuhi standar dan/atau persyaratan yang ditetapkan.” Bunyi pasal tersebut secara tegas mengatakan bahwa pengaturan yang dimaksudkan semestinya meliputi semua zat adiktif, tanpa terkecuali. Dengan demikian, ayat (2) pasal 113 ini adalah ayat yang salah arah dan tendensius.
Padahal pasal 133, terutama ayat (2), itulah yang dijadikan sebagai dasar bagi pasal 116 UU 36/2009 untuk mengamanatkan pembentukan Peraturan Pemerintah tentang pengamanan  bahan yang mengandung zat adiktif. Dengan demikian, PP nomor 109 tahun 2012 Tentang Tembakau yang merupakan amanat dari pasal 116 UU 36/2009, akhirnya menjadi PP yang salah arah dan intimidatif terhadap konsumen tembakau.
Secara jelas dan kasat mata, pasal-pasal dalam UU kesehatan tahun 2009 di atas adalah pasal-pasal yang tidak konsisten, dan menghakimi konsumen tembakau. Kenapa menghakimi? karena ternyata hanya tembakaulah yang diatur. Padahal ada banyak barang yang dalam dunia kesehatan juga dianggap sebagai zat adiktif, yang juga bisa dikonsumsi secara legal. Kalau mau berlaku adil, UU yang mengamanatkan “Pengamanan Zat Adiktif”, mestinya mengatur  semua zat adiktif versi dunia kesehatan yang disebutkan di atas.
Namun kenyataannya tidaklah demikian, yang diatur dalam UU tersebut hanyalah tembakau. Ini sama saja mengatakan, konsumen tembakau adalah sosok yang keberadaannya berbahaya dan membahayakan, sehingga perlu diatur. Padahal, tembakau adalah produk legal, tindakan mengkonsumsi tembakau juga tindakan yang legal, sebagaimana mengkonsumsi produk-produk lainnya. Syahdan, UU Nomor 36 tahun 2009 yang merupakan dasar dari PP Tembakau adalah UU kriminalisasi konsumen tembakau, di mana konsumen tembakau adalah konsumen yeng mengkonsumsi barang legal, tetapi diatur dan dilarang-larang seakan-akan mengkonsumsi barang illegal. Konsumen tembakau yang tidak mengalami gangguan sebagaimana ciri-ciri pengkonsumsi zat adiktif, tetapi dianggap berbahaya, dikendalikan dan lebih jauh perlu diterapi. Dalam hal ini, konsumen tembakau yang dikriminalisasi bukan saja konsumen rokok, tetapi juga konsumen produk tembakau yang lain.[]
Oleh Rifqi Muhammad
sumber
 

Komunitas kretek: rokok tidak menyebabkan kanker paru


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komunitas Kretek Alfa Gumilang menyatakan, pendapat menuding rokok sebagai penyebab kanker paru-paru, adalah bentuk informasi sesat dan keliru.
“Selama ini kita selalu dicekoki informasi yang lambat laun mengendalikan pikiran kita, hingga kita mengidentikkan rokok dengan kanker paru-paru. Sekarang, semua teori itu runtuh sudah,” ujar Alfa dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (4/5/2012).
Sebagaimana diberitakan, Menkes Endang Rahayu tutup usia setelah beberapa waktu mengidap kanker paru-paru. Padahal, almarhumah dikenal sebagai tokoh kesehatan yang sangat antirokok, dan selalu jauh dari asap rokok.
"Sebenarnya, di masyarakat sudah banyak ditemukan kasus orang kena kanker padahal bukan perokok. Atau, orang panjang umur dan sehat-sehat saja, padahal perokok berat. Tapi, selama ini masyarakat menutup mata. Sampai akhirnya seorang figur publik yang kena, dan semua ternganga,” paparnya.
Fakta ini sejalan dengan penemuan Prof Sutiman Bambang Sumitro dari Pusat Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang. Setelah penelitian belasan tahun, salah satu bukti ilmiah yang ditemukan adalah, asap rokok memang mengandung zat merugikan, namun tak cukup kuat sebagai penyebab kanker.
Lebih jauh lagi, teori Prof Sutiman menyatakan, rokok menyebabkan kanker kebanyakan hanya hasil pengolahan data di rumah sakit, bukan di lapangan.
Jadi, asal ada pasien mengidap kanker, dan kebetulan dia merokok, serta-merta rokok lah yang dituding sebagai penyebab tunggalnya.
Variabel-variabel lain yang terkait dengan gaya hidup si pasien, semisal 'asupan' polusi asap kendaraan, konsumsi MSG, dan sebagainya, diabaikan. Metode semacam itu jelas melanggar kaidah eksperimen ilmiah.
"Dengan teori baru hasil penelitian ilmuwan bangsa sendiri tersebut, menjadi cukup jelas lah kenapa di sekitar kita banyak perokok aktif yang tetap sehat sampai lanjut usia," beber Alfa.
Bahkan, tuturnya, banyak tokoh nasional yang perokok kretek tetap bugar dan produktif hingga usia senja. Sebut saja misalnya Haji Agus Salim, mantan Menteri Pendidikan Prof Fuad Hasan, penulis besar Pramoedya Ananta Toer, master menggambar Pak Tino Sidin, tokoh Muhammadiyah Prof Malik Fadjar, dan masih banyak contoh lain.
Komunitas Kretek adalah komunitas anak muda yang bergerak bersama demi kedaulatan aset-aset ekonomi lokal Indonesia. 
Komunitas ini concern pada advokasi industri kretek, industri nasional yang menghidupi 30,5 juta jiwa, dan salah satu sektor industri yang mampu benar-benar berdikari karena menggunakan hampir 100 persen bahan baku lokal, modal lokal, bahkan pasar lokal.
Secara umum, Komunitas Kretek melakukan kampanye penyelamatan atas industri-industri nasional Indonesia.
sumber
 

Aktivitas Merokok Hak Konstitusional, Jangan Dilarang


JAKARTA -Kampanye pembatasan merokok yang kini makin gencar mendapat tanggapan dari sebuah gerakan yang menamakan diri Komunitas Kretek. Mereka menyatakan aktivitas merokok sebagai sebuah hak konstitusi yang dilindungi undang-undang.
Hal itu dikarenakan hasil putusan Mahkamah Konstitusi pasal 115 ayat 1 Undang-Undang Kesehatan No. 36/2006 dalam ayat penjelasan, menyatakan bahwa setiap Kawasan Tanpa Rokok harus menyediakan tempat khusus untuk merokok. “Berdasarkan putusan itu maka tentu sangat jelas bahwa amanat konstitusi menjadikan aktivitas merokok sebagai sebuah hak konstitusional yang dilindungi oleh undang-undang,” kata Jibal Windiaz, Koordinator Komunitas Kretek Jakarta, Selasa (13/11/2012).
Amanat konstitusi itu, lanjutnya, harus dihormati oleh segenap elemen mayarakat dan kelembagaan pemerintah di seluruh Indonesia, terutama masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta yang termasuk di dalamnya. Dia menjelaskan yang terjadi di Jakarta dengan merokok dianggap sebagai sebuah kegiatan yang mengganggu dan diperlakukan secara diskriminatif.
“Ini terbukti dengan masih diberlakukannya Pergub No.88/2010 tentang larangan merokok, sekaligus pembatasan terhadap hak merokok di Jakarta,” ungkapnya. Jibal menuturkan masih banyaknya lokasi-lokasi publik dan gedung-gedung di Jakarta yang dijadikan kawasan tanpa rokok tanpa menyediakan tempat khusus untuk merokok.
Saat ini, gencarnya pembatasan dan pelarangan berbanding terbalik dengan memberikan pendidikan dan kesadaran tentang kegiatan merokok yang etis,” ujarnya. Pada kenyataannya, pembatasan dan pelarangan merokok di Jakarta selain melanggar hak konstitusional yang dilindungi undang-undang, di sisi lain membuat stigma merokok adalah kegiatan amoral yang mengganggu kesehatan lingkungan dan ketertiban umum.
Jibal menilai rokok adalah barang legal dan kegiatan merokok adalah hak setiap orang. “Maka selayaknya pemerintah memenuhi hak dari setiap orang"
sumber
 

Ini Dia Gambar Baru Pada Kemasan Rokok

Dengan disahkannya Undang-undang rokok yang baru, yang salah satu isinya adalah kewajiban untuk menampilkan gambar-gambar akibat merokok, maka pada kemasan rokok yang baru, akan muncul gambar-gambar sebagai berikut:

Kanker Mulut



Kanker Kerongkongan



Kanker Paru-paru dan Bronkitis



Merokok Dapat Membunuhmu



Merokok dekat anak, berbahaya


 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012 tentang Rokok

Setelah sempat menjadi pro kontra, akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. 

Aturan ini diteken SBY pada 24 Desember 2012 lalu. Namun baru dilansir pemerintah melalui situs Sekretariat Negara (Setneg) pekan ini. 

Sekadar informasi, PP tersebut adalah kepanjangan tangan UU Nomor 36/2009 tentang Kesehatan, khususnya pasal 116 yang menekankan pentingnya peraturan pemerintah tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

Berikut isi lengkap PP tersebut:

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Zat Adiktif adalah bahan yang menyebabkan adiksi atau ketergantungan yang membahayakan kesehatan dengan ditandai perubahan perilaku, kognitif, dan fenomena fisiologis, keinginan kuat untuk mengonsumsi dalam mengendalikan bahan tersebut, kesulitan penggunaannya, memberi prioritas pada penggunaan bahan tersebut daripada kegiatan lain, meningkatnya toleransi dan dapat menyebabkan keadaan gejala putus zat.

2. Produk Tembakau adalah suatu produk yang secara keseluruhan atau sebagian terbuat dari daun tembakau sebagai bahan bakunya yang diolah untuk digunakan dengan cara dibakar, dihisap, dan
dihirup atau dikunyah.

3. Rokok adalah salah satu Produk Tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya atau sintetisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan.

4. Nikotin adalah zat, atau bahan senyawa pyrrolidine yang terdapat dalam nicotiana tabacum, nicotiana rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang bersifat adiktif dapat mengakibatkan ketergantungan.

5. Tar adalah kondensat asap yang merupakan total residu dihasilkan dikurangi saat Nikotin Rokok dan dibakar setelah yang bersifat air, karsinogenik.

6. Iklan Niaga Produk Tembakau yang selanjutnya disebut Iklan Produk Tembakau, adalah iklan komersial dengan tujuan memperkenalkan dan/atau memasyarakatkan barang kepada khalayak sasaran untuk mempengaruhi konsumen agar menggunakan Produk Tembakau yang ditawarkan.

7. Promosi Produk Tembakau adalah kegiatan pengenalan atau penyebarluasan informasi suatu Produk Tembakau untuk menarik minat beli konsumen terhadap Produk Tembakau yang akan dan sedang diperdagangkan.

8. Sponsor Produk Tembakau adalah segala bentuk kontribusi langsung atau tidak langsung, dalam bentuk dana atau lainnya, dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh lembaga atau perorangan dengan tujuan mempengaruhi Produk Tembakau Promosi penggunaan atau melalui Produk Tembakau.

9. Label adalah setiap keterangan mengenai Produk Tembakau yang berbentuk kombinasi keduanya, atau gambar, bentuk tulisan, lain yang disertakan pada Produk Tembakau, dimasukkan ke dalam, ditempatkan pada, atau merupakan bagian Kemasan Produk Tembakau.

10. Kemasan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan/atau membungkus Produk Tembakau baik yang bersentuhan langsung dengan Produk Tembakau maupun tidak.

11. Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan Produk Tembakau.

12. Setiap Orang adalah orang perseorangan atau badan, baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak berbadan hukum.

13. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik yang memegang kekuasaan Indonesia Pemerintah Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

14. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

15. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

16. Kepala Badan adalah kepala badan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengawasan obat dan makanan.

Pasal 2
(1) Penyelenggaraan pengamanan penggunaan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan diarahkan agar tidak mengganggu perseorangan, dan membahayakan keluarga, kesehatan
masyarakat, dan lingkungan.
(2) Penyelenggaraan pengamanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertujuan untuk:

a. melindungi kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan dari bahaya bahan yang mengandung karsinogen dan Zat Adiktif dalam Produk menyebabkan Tembakau penyakit, yang dapat kematian, dan produktif, anak, menurunkan kualitas hidup;
b. melindungi penduduk usia remaja, dan perempuan hamil dari dorongan lingkungan dan pengaruh iklan dan promosi untuk inisiasi penggunaan dan ketergantungan terhadap bahan yang mengandung Zat Adiktif
berupa Produk Tembakau;
c. meningkatkan masyarakat kesadaran terhadap dan bahaya kewaspadaan merokok dan manfaat hidup tanpa merokok; dan
d. melindungi kesehatan masyarakat dari asap Rokok orang lain.

Pasal 3
Peraturan Pemerintah ini mengatur mengenai:
a. Produk Tembakau;
b. tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah;
c. penyelenggaraan;
d. peran serta masyarakat; dan
e. pembinaan dan pengawasan.

BAB II
PRODUK TEMBAKAU

Pasal 4
Produk Tembakau yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi Rokok dan Produk Tembakau lainnya yang penggunaannya terutama dengan cara dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya, yang mengandung Zat Adiktif dan bahan lainnya yang berbahaya bagi kesehatan.

Pasal 5
(1) Selain Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Produk Tembakau yang mengandung nicotiana tabacum, nicotiana rustica, dan spesies lainnya dan/atau hasil olahannya termasuk pembuatan sintetis yang jenis dan sifatnya sama atau serupa dengan yang dihasilkan oleh nicotiana
spesies dan penggunaannya dengan cara dibakar dan dihisap dan/atau dihirup asapnya termasuk dalam ketentuan Peraturan Pemerintah ini.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

BAB III
TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH

Pasal 6
(1) Pemerintah dan kewenangannya Pemerintah bertanggung menyelenggarakan, membina, Daerah sesuai jawab mengatur, dan mengawasi pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan.
(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah bertanggung jawab atas ketersediaan akses terhadap informasi dan edukasi atas pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan.

Pasal 7
(1) Pemerintah dan kegiatan Pemerintah Daerah penelitian dan mendorong pengembangan dalam rangka pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan.
(2) Pemerintah dan Pemerintah Daerah mendorong pelaksanaan diversifikasi Produk Tembakau.

BAB IV
PENYELENGGARAAN 
Bagian Kesatu 
Umum

Pasal 8
Penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan meliputi:
a. produksi dan impor;
b. peredaran;
c. perlindungan khusus bagi anak dan perempuan hamil; dan
d. Kawasan Tanpa Rokok.

Bagian Kedua
Produksi dan Impor
Pasal 9
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau wajib memiliki izin sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 10
(1) Setiap orang yang memproduksi Produk Tembakau berupa Rokok harus melakukan pengujian kandungan kadar Nikotin dan Tar per batang untuk setiap varian yang diproduksi.
(2) Ketentuan mengenai pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap Rokok klobot, Rokok klembak menyan, cerutu, dan tembakau iris.
(3) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku apabila perkembangan teknologi telah mampu melakukan pengujian kandungan kadar Nikotin dan Tar terhadap Rokok klobot, Rokok klembak menyan, cerutu, dan tembakau iris.

Pasal 11
(1) Pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dilakukan di laboratorium yang sudah terakreditasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Hasil pengujian kandungan kadar Nikotin dan Tar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan kepada Kepala Badan.

Pasal 12
(1) Setiap orang yang memproduksi Produk Tembakau dilarang menggunakan bahan tambahan kecuali telah dapat dibuktikan secara ilmiah bahan tambahan tersebut tidak berbahaya bagi kesehatan.
(2) Bahan tambahan yang dapat digunakan pada produksi Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
(3) Setiap orang yang memproduksi Produk Tembakau yang menggunakan bahan tambahan yang berbahaya bagi kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi administratif oleh Menteri
berupa penarikan produk atas biaya produsen.

Pasal 13
(1) Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau berupa Rokok putih mesin dilarang mengemas kurang dari 20 (dua puluh) batang dalam setiap Kemasan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Produk Tembakau selain Rokok
putih mesin.
(3) Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau berupa Rokok putih mesin dengan Kemasan kurang dari 20 (dua puluh) batang dalam dimaksud setiap pada ayat Kemasan (1) sebagaimana dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 14
(1) Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau ke wilayah Indonesia wajib mencantumkan peringatan kesehatan.
(2) Peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk gambar dan tulisan yang harus mempunyai satu makna.
(3) Peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercetak menjadi satu dengan Kemasan Produk Tembakau.

Pasal 15
(1) Setiap 1 (satu) varian Produk Tembakau wajib dicantumkan gambar dan tulisan peringatan kesehatan yang terdiri atas 5 (lima) jenis yang berbeda, dengan porsi masing-masing 20% (dua puluh persen) dari jumlah setiap varian Produk Tembakaunya.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tidak berlaku nonPengusaha bagi industri Kena Pajak Produk yang Tembakau total jumlah produksinya tidak lebih dari 24.000.000 (dua puluh empat juta) batang per tahun.
(3) Industri Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mencantumkan paling sedikit 2 (dua) jenis gambar dan tulisan peringatan kesehatan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri.

Pasal 16
Ketentuan lebih lanjut mengenai gambar dan tulisan peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan Pasal 15 diatur dengan Peraturan Menteri setelah berkoordinasi menyelenggarakan urusan dengan menteri pemerintahan di yang bidang keuangan.

Pasal 17
(1) Gambar dan peringatan dimaksud sebagaimana tulisan kesehatan dalam Pasal 15 dicantumkan pada setiap Kemasan terkecil dan Kemasan lebih besar Produk Tembakau.
(2) Setiap Kemasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencantumkan 1 (satu) jenis gambar dan tulisan peringatan kesehatan.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi Rokok klobot, Rokok klembak menyan, dan cerutu Kemasan batangan.
(4) Pencantuman dimaksud gambar pada ayat tulisan (1) sebagaimana harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dicantumkan pada bagian atas Kemasan sisi lebar bagian depan dan belakang masing-masing
seluas 40% (empat puluh persen), diawali dengan kata “Peringatan” dengan menggunakan huruf berwarna putih dengan dasar hitam, harus dicetak dengan jelas dan mencolok, baik sebagian atau seluruhnya;
b. gambar sebagaimana dimaksud pada huruf a harus dicetak berwarna; dan
c. jenis huruf harus menggunakan huruf arial bold dan font 10 (sepuluh) atau proporsional dengan Kemasan, tulisan warna putih di atas latar belakang hitam.
(5) Gambar dan tulisan peringatan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tidak boleh tertutup oleh apapun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 18 
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau tanpa mencantumkan peringatan kesehatan berupa gambar dan tulisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 17
dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 19
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau berupa Rokok wajib mencantumkan informasi kandungan kadar Nikotin dan Tar sesuai hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 pada Label setiap Kemasan dengan penempatan yang jelas dan mudah dibaca.

Pasal 20
Pencantuman informasi tentang kandungan kadar Nikotin dan Tar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 wajib ditempatkan pada sisi samping setiap Kemasan Produk Tembakau, dibuat kotak dengan garis pinggir
1 mm (satu milimeter), warna kontras antara warna dasar dan tulisan, ukuran tulisan paling sedikit 3 mm (tiga milimeter), sehingga dapat terlihat dengan jelas dan mudah dibaca.

Pasal 21
Selain pencantuman informasi tentang kadar Nikotin dan Tar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, pada sisi samping lainnya dari Kemasan Produk Tembakau wajib dicantumkan:
a. pernyataan, “dilarang menjual atau memberi kepada anak berusia di bawah 18 tahun dan perempuan hamil”; dan
b. kode produksi, tanggal, bulan, dan tahun produksi, serta nama dan alamat produsen.

Pasal 22
Pada sisi samping lainnya dari Kemasan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dapat dicantumkan pernyataan, “tidak ada batas aman” dan “mengandung lebih dari 4000 zat kimia berbahaya serta lebih dari 43 zat penyebab kanker”.

Pasal 23
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau tanpa mencantumkan informasi kandungan kadar Nikotin dan Tar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 20, dan Pasal 21
dikenakan sanksi administratif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 24
(1) Setiap produsen dilarang untuk mencantumkan keterangan atau tanda apapun yang menyesatkan atau kata-kata yang bersifat promotif.
(2) Selain larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap produsen dilarang mencantumkan kata “Light”, “Ultra Light”, “Mild”, “Extra Mild”, “Low Tar”, “Slim”, “Special”, “Full Flavour”, “Premium” atau kata lain yang mengindikasikan kualitas, superioritas, rasa aman, pencitraan, kepribadian ataupun kata-kata dengan arti yang sama.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku bagi Produk Tembakau yang sudah mendapatkan sertifikat merek sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau yang mencantumkan keterangan atau tanda apapun yang menyesatkan atau kata-kata yang bersifat promotif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 

Bagian Ketiga
Peredaran
Pasal 25
Setiap orang dilarang menjual Produk Tembakau:
a. menggunakan mesin layan diri;
b. kepada anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun; dan
c. kepada perempuan hamil.

Pasal 26
(1) Pemerintah melakukan pengendalian Iklan Produk Tembakau.
(2) Pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan pada media cetak, media penyiaran, media teknologi informasi, dan/atau media luar ruang.

Pasal 27
Pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, antara lain dilakukan sebagai
berikut:
a. mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari total durasi iklan dan/atau 15% (lima belas persen) dari total luas iklan;
b. mencantumkan penandaan/tulisan “18+” dalam Iklan Produk Tembakau;
c. tidak memperagakan, menampilkan menggunakan, wujud atau bentuk dan/atau Rokok atau sebutan lain yang dapat diasosiasikan dengan merek Produk Tembakau;
d. tidak mencantumkan nama produk yang bersangkutan adalah Rokok;
e. tidak menggambarkan atau menyarankan bahwa merokok memberikan manfaat bagi kesehatan;
f. tidak menggunakan kata atau kalimat yang menyesatkan;
g. tidak merangsang atau menyarankan orang untuk merokok;
h. tidak menampilkan anak, remaja, dan/atau wanita hamil dalam bentuk gambar dan/atau tulisan;
i. tidak ditujukan terhadap anak, remaja, dan/atau wanita hamil;
j. tidak menggunakan tokoh kartun sebagai model iklan; dan
k. tidak bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pasal 28
Selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, Iklan Produk Tembakau di media cetak
wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. tidak diletakkan di sampul depan dan/atau belakang media cetak, atau halaman depan surat kabar;
b. tidak diletakkan berdekatan dengan iklan makanan dan minuman;
c. luas kolom iklan tidak memenuhi seluruh halaman; dan
d. tidak dimuat di media cetak untuk anak, remaja, dan perempuan.

Pasal 29
Selain pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, iklan di media penyiaran hanya dapat ditayangkan setelah pukul 21.30 sampai dengan pukul 05.00 waktu setempat.

Pasal 30
Selain pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, iklan di media teknologi informasi harus memenuhi ketentuan situs merek dagang Produk Tembakau yang menerapkan verifikasi umur untuk membatasi akses hanya kepada orang berusia 18 (delapan belas) tahun ke atas.

Pasal 31
Selain pengendalian Iklan Produk Tembakau sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, iklan di media luar ruang harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. tidak diletakkan di Kawasan Tanpa Rokok;
b. tidak diletakkan di jalan utama atau protokol;
c. harus diletakkan sejajar dengan bahu jalan dan tidak boleh memotong jalan atau melintang; dan
d. tidak boleh melebihi ukuran 72 m2 (tujuh puluh dua meter persegi).

Pasal 32
Dalam rangka memenuhi akses ketersediaan informasi dan edukasi kesehatan masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan iklan layanan masyarakat mengenai bahaya menggunakan Produk Tembakau.

Pasal 33
Ketentuan lebih lanjut mengenai Iklan Produk Tembakau diatur dengan peraturan instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang penyiaran.

Pasal 34
Ketentuan lebih lanjut mengenai Iklan Produk Tembakau di media luar ruang diatur oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 35
(1) Pemerintah melakukan pengendalian Promosi Produk Tembakau.
(2) Ketentuan pengendalian Promosi Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
sebagai berikut:
a. tidak memberikan secara cuma-cuma, potongan harga, hadiah Produk Tembakau, atau produk lainnya
yang dikaitkan dengan Produk Tembakau;
b. tidak menggunakan logo dan/atau merek Produk Tembakau pada produk atau barang bukan
Produk Tembakau; dan
c. tidak menggunakan logo dan/atau merek Produk Tembakau pada suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan.

Pasal 36
(1) Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau yang mensponsori suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan hanya dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak menggunakan nama merek dagang dan logo Produk Tembakau termasuk brand image Produk Tembakau; 
b. tidak bertujuan untuk mempromosikan Produk Tembakau.
(2) Sponsor dilarang sebagaimana untuk dimaksud kegiatan pada lembaga ayat (1) dan/atau perorangan yang diliput media.

Pasal 37
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau yang menjadi sponsor dalam bentuk
tanggung jawab sosial perusahaan hanya dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. tidak menggunakan nama merek dagang dan logo Produk Tembakau termasuk brand image Produk Tembakau; dan
b. tidak bertujuan untuk mempromosikan Produk Tembakau.

Pasal 38
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengendalian Sponsor Produk Tembakau sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 36 dan Pasal 37 diatur oleh Pemerintah Daerah.

Pasal 39
Setiap orang dilarang menyiarkan dan menggambarkan dalam bentuk menampilkan gambar atau atau foto, menampakkan menayangkan, orang sedang merokok, memperlihatkan batang Rokok, asap Rokok, bungkus Rokok atau yang berhubungan dengan Produk Tembakau serta segala bentuk informasi Produk Tembakau di media cetak, media penyiaran, dan media teknologi informasi yang berhubungan dengan kegiatan komersial/iklan atau membuat orang ingin merokok.

Pasal 40
Setiap orang yang mengiklankan dan/atau mempromosikan Produk Tembakau tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 35, Pasal 36, Pasal
37, dan Pasal 39, dikenakan sanksi administratif oleh Menteri dan/atau menteri terkait berupa:
a. penarikan dan/atau perbaikan iklan;
b. peringatan tertulis; dan/atau
c. pelarangan sementara mengiklankan Produk Tembakau yang bersangkutan pada pelanggaran berulang atau pelanggaran berat.

Bagian Keempat
Perlindungan Khusus Bagi Anak Dan Perempuan Hamil
Pasal 41
Penyelenggaraan perlindungan anak dan perempuan hamil terhadap bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau, dilaksanakan secara terpadu dan komprehensif melalui kegiatan pencegahan, pemulihan kesehatan fisik dan mental serta pemulihan sosial.

Pasal 42
Kegiatan pencegahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 dilakukan dalam rangka memberi pemahaman kepada anak dan perempuan hamil mengenai dampak buruk penggunaan Produk Tembakau.

Pasal 43
(1) Kegiatan pemulihan kesehatan fisik dan mental sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ditujukan untuk memulihkan kesehatan baik fisik maupun mental anak dan ibu hamil akibat penggunaan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau.
(2) Pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan antara lain: 
a. pemeriksaan fisik dan mental;
b. pengobatan;
c. pemberian terapi psikososial;
d. pemberian terapi mental; dan/atau
e. melakukan rujukan.
(3) Pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten.

Pasal 44
(1) Kegiatan pemulihan sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ditujukan untuk memulihkan dan mengembangkan kemampuan anak yang mengalami disfungsi sosial akibat penggunaan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau agar dapat melaksanakan fungsi sosial secara wajar.
(2) Kegiatan pemulihan sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui rehabilitasi sosial
dalam bentuk antara lain:
a. motivasi dan diagnosis psikososial;
b. perawatan dan pengasuhan;
c. pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan;
d. bimbingan mental spiritual;
e. bimbingan fisik;
f. bimbingan sosial dan konseling psikososial;
g. pelayanan aksesibilitas;
h. bantuan dan asistensi sosial;
i. bimbingan resosialisasi;
j. bimbingan lanjut; dan/atau
k. melakukan rujukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sosial.

Pasal 45
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau dilarang memberikan Produk Tembakau dan/atau barang yang menyerupai Produk Tembakau secara cuma-cuma kepada anak, remaja, dan perempuan hamil.

Pasal 46
Setiap orang dilarang menyuruh anak di bawah usia 18 (depalan belas) tahun untuk menjual, membeli, atau mengonsumsi Produk Tembakau.

Pasal 47
(1) Setiap penyelenggaraan kegiatan yang disponsori oleh Produk Tembakau dan/atau bertujuan untuk mempromosikan Produk Tembakau dilarang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun.
(2) Setiap orang yang menyelenggarakan kegiatan yang disponsori Produk Tembakau sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengikutsertakan anak di bawah usia 18 (delapan belas) tahun dikenakan sanksi oleh pejabat Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Pasal 48
(1) Dalam rangka memberikan perlindungan kepada anak terhadap bahaya bahan yang mengandung Zat
Adiktif berupa Produk Tembakau, Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyediakan posko pelayanan selama 24 (dua puluh empat) jam.
(2) Posko pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa hotline service atau call center.

Bagian Kelima
Kawasan Tanpa Rokok
Pasal 49
Dalam rangka penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi
kesehatan, Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok.

Pasal 50
(1) Kawasan Tanpa Rokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 antara lain:
a. fasilitas pelayanan kesehatan;
b. tempat proses belajar mengajar;
c. tempat anak bermain;
d. tempat ibadah;
e. angkutan umum;
f. tempat kerja; dan
g. tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.
(2) Larangan kegiatan menjual, mengiklankan, dan mempromosikan Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan penjualan Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok.
(3) Larangan kegiatan memproduksi Produk Tembakau tidak berlaku bagi tempat yang digunakan untuk kegiatan produksi Produk Tembakau di lingkungan Kawasan Tanpa Rokok.
(4) Pimpinan atau sebagaimana penanggung dimaksud pada jawab ayat tempat (1) wajib menerapkan Kawasan Tanpa Rokok.

Pasal 51
(1) Kawasan Tanpa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 huruf f dan huruf g menyediakan tempat khusus untuk merokok.
(2) Tempat khusus untuk merokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus merupakan ruang terbuka yang berhubungan langsung dengan udara luar.

Pasal 52
Pemerintah Daerah wajib menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di wilayahnya dengan Peraturan Daerah.

BAB V
PERAN SERTA MASYARAKAT

Pasal 53
(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam rangka pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
(2) Peran serta sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan oleh perorangan, kelompok, badan
hukum atau badan usaha, dan lembaga atau organisasi yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Pasal 54
Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 dilaksanakan melalui:
a. pemikiran penentuan dan masukan kebijakan berkenaan dan/atau dengan pelaksanaan program pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan;
b. penyelenggaraan, pemberian bantuan, dan/atau kerjasama dalam kegiatan penelitian dan pengembangan
pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan;
c. pengadaan dan pemberian bantuan sarana dan prasarana bagi penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan;
d. keikutsertaan dalam pemberian bimbingan dan penyuluhan serta penyebarluasan informasi kepada masyarakat berkenaan dengan penyelenggaraan pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif
berupa Produk Tembakau bagi kesehatan; dan
e. kegiatan pengawasan dan pelaporan pelanggaran yang ditemukan dalam rangka penyelenggaraa pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan.

Pasal 55
Peran serta masyarakat dalam rangka penyelenggaraan upaya pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif
berupa Produk Tembakau bagi kesehatan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 56
Dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat, Pemerintah dan Pemerintah Daerah bekerja sama dengan
lembaga terkait lainnya untuk menyebarluaskan informasi dan edukasi penyelenggaraan pengamanan
bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan.

BAB VI
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Kesatu
Pembinaan
Pasal 57
Menteri, menteri terkait, Kepala Badan, dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya melakukan
pembinaan atas penyelenggaraan pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi kesehatan dengan:
a. mewujudkan Kawasan Tanpa Rokok;
b. mencegah perokok pemula dan melakukan konseling berhenti merokok;
c. memberikan informasi, edukasi, dan pengembangan kemampuan masyarakat untuk berperilaku hidup
sehat;
d. bekerja sama dengan badan/atau lembaga internasional atau organisasi kemasyarakatan untuk
menyelenggarakan pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi kesehatan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
e. memberikan penghargaan kepada orang atau badan yang telah berjasa dalam membantu penyelenggaraan
pengamanan Produk Tembakau sebagai Zat Adiktif bagi kesehatan.

Pasal 58
(1) Menteri, menteri terkait, Kepala Badan, dan Pemerintah Daerah melakukan upaya pengembangan dalam rangka diversifikasi Produk Tembakau yang penggunaannya akan membawa manfaat bagi kesehatan.
(2) Diversifikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan dengan melibatkan peran serta
masyarakat sebagai upaya melindungi kelestarian tanaman tembakau. Bagian Kedua Pengawasan

Pasal 59
(1) Menteri, menteri terkait, Kepala Badan, dan Pemerintah Daerah melakukan pengawasan atas
pelaksanaan upaya pengamanan bahan yang mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi kesehatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.
(2) Dalam rangka dimaksud Kepala pengawasan sebagaimana pada ayat (1), Menteri, menteri terkait,
Badan, mengambil dan Pemerintah tindakan Daerah administratif dapat terhadap pelanggaran ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Pasal 60
(1) Pengawasan terhadap Produk Tembakau yang beredar, promosi, dan pencantuman peringatan kesehatan
dalam iklan dan Kemasan Produk Tembakau dilaksanakan oleh Kepala Badan.
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Kepala Badan dan berkoordinasi
dengan instansi terkait.
(3) Dalam melakukan pengawasan Produk Tembakau yang beredar, iklan, dan promosi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Badan dapat mengenai sanksi administratif berupa:
a. teguran lisan;
b. teguran tertulis;
c. penarikan produk;
d. rekomendasi penghentian sementara kegiatan; dan/atau
e. rekomendasi penindakan kepada instansi terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
(4) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf d dan huruf e harus dilaksanakan oleh instansi penerima rekomendasi dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pengawasan Produk Tembakau yang beredar, pencantuman peringatan kesehatan dalam iklan dan Kemasan Produk Tembakau, dan promosi diatur
oleh Kepala Badan.

BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 61
Setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor Produk Tembakau harus menyesuaikan dengan ketentuan Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 17 paling lambat 18 (delapan belas) bulan terhitung sejak Peraturan
Pemerintah ini diundangkan.

Pasal 62
Setiap orang yang mempromosikan dan/atau mengiklankan Produk Tembakau harus menyesuaikan dengan ketentuan Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, Pasal 30, Pasal 31, dan Pasal 35 paling lambat 12 (dua belas) bulan terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.

Setiap orang memproduksi, mengimpor, dan/atau mengedarkan Produk Tembakau yang menjadi sponsor suatu kegiatan harus menyesuaikan dengan ketentuan Pasal 36, dan Pasal 37 paling lambat 12 (dua belas) bulan terhitung sejak Peraturan Pemerintah ini diundangkan.

BAB VIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 63
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, semua peraturan pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4276) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

Pasal 64
Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, maka Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4276), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 65
Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, pengundangan Peraturan penempatannya dalam memerintahkan Pemerintah Lembaran ini Negara dengan Republik Indonesia.
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Rokok Kretek - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger
8:34 PM